Telur tetas yang telah lolos seleksi mutu, diperlukan dengan fumigasi terlebih dahulu sebelum dimasukan kedalam mesin tetas. Telur yang ditata pada Egg Ray ditempatkan dalam rak-rak didalam ruang fumigasi. tempatkan KMn04 sebanyak 17,5 gram pada sebuah wadah lalu tuangkan formalin 40% sekitar 35cc, lalu tutup ruang fumigasi selama 20 Menit. tujuan fumigasi adalah untuk membunuh mikroorganisma yang menempel pada permukaan kulit telur.

Khusus telur tetas yang disimpan terlebih dahulu dalam waktu sekitar 2 minggu atau lebih, sebelum dimasukan dalam ruang penetasan harus disimpan terlebih dahulu dalam suhu ruang untuk menghilangkan kondesasi pada permukaan telur. Kondesasi ini nampak pada adanya titik-titik air pada permukaan telur. Titik-titik air tersebut perlu dihilangkan dengan mengurangi kelembaban sesaat sebelum telur dikeluarkan dan meningkatkan temperatur ruang penyimpanan agar menguap dengan cepat. Setelah itu, telur tetas harus dipanaskan terlebih dahulu pada suhu sekitar 18 atau bahkan dibawahnya bila langsung dimasukan dalam mesin tetas akan menurunkan suhu dalam ruang mesin tetas sehingga telur mengalami kelembaban penetasan. Tetapi telur yang disimpan terlebih dahulu bisa langsung dimasukan dalam mesin penetasan.

Penetasan telur dapat dilakukan secara alami dengan mengunakan induk ayam atau unggas seperti entog untuk mengerami telur tetas. Tetapi kapasitasnya tentu akan sangat terbatas. Untuk mendapatkan bibit anak ayam dalam jumlah banyak dan tujuan komersial maka penetasan mengunakan mesin merupakan cara yang terbaik.

Penetasan dengan mesin tetas dapat dilakukan dengan mesin tetas yang memiliki kapasitas kecil dan ada pula mesin tetas otomatis dengan kapasitas ribuan telur. Pada Mesintetas dengan kapasitas kecil ada yang bisa memuat 30 Telur, 50 Telur, 100 Telur, 200 Telur, 500 Telur dan 1000 Telur. Mesin tersebut bisa anda pilih sesuai kebutuhan.

Pada mesin tetas sederhana atau tradisional meski sudah terdapat pengatur suhu otomatis tetapi pemutaran telur masih dilakukan secara manual. Tetapi pada mesin tetas otomatis selain control suhu otomatis yang mengunakan thermostat, juga mengunakan rak putar otomatis yang dilengkapi dengan handle pemutar egg tray sehingga anda bisa memutar telur sekali putaran tanpa menyentuh telur.

 

Pada mesin tetas yang masih sederhana pengaturan ventilasi udara tergantung pada keadaan lingkungan, udara keluar masuk melalui sebuah lubang ventilasi sehingga udara dapat keluar masuk, selain itu tempat pengeraman telur dan penetasan telur terdapat dalam satu mesin tetas. Namun demikian pada mesin tetas yang lebih modern terutama dengan kapasitas penetasan yang besar, udara dapat mengalami pertukaran secara baik karena ventilasi udara didalam mesin digerakan oleh kipas. Dengan pengaturan ventilasi tersebut dapat memperbaiki daya tetas telur menjadi lebih baik. selain itu pada mesin tetas modern, tempat pengeraman telur ( setter ) terpisah dengan tempat penetasan telur ( hatcher ). Pada mesin setter telah dieram mulai umur 1-18 hari. setelah itu telur dimasukan kedalam mesin hatcher untuk penetasan dan setelah itu dipanen pada hari ke -21

Pada saat telur dimasukan dalam mesin setter, pengaturan suhu atau temperature merupakan hal yang perlu diperhatikan. Suhu yang tidak tepat akan mempengaruhi daya tetas. Dalam mesin tetas yang udaranya digerakan oleh kipas untuk ventilasi, temperatur penetasan diatur agar berada pada kisaran 37,8 derajat celcius atau 100 Fahrenheit. Sedangkan kelembaban diatur agar berada pada 58-69,9%. Temperatur dalam mesin setter harus stabil dan konstan. Bila terjadi fluktuasi suhu yang naik turun akan mempengaruhi daya tetas telur.

Pada mesin setter, telur mengalami respirasi yaitu mengeluarkan gas CO2 dan membutuhkan oksigen. bila gas CO2 terlalu tinggi akan  menyebabkan kematian embrio sehingga daya tetas telur menjadi rendah. Volume CO2 yang normalsekitar 0,5-0,8% sedangkan kebutuhan oksigen sekitar 21% sebab itu sirkulasi udara melalui ventilasi yang diatur oleh kipas akan mempertukarkan gas CO2 dan O2 secara baik.

Dalam Mesin setter posisi telur tidak dibiarkan sama terus menerus tetapi selalu dilakukan pembalikan. posisi telur yang tumpul dibagian atas, dan pembalikan dilakukan memutar 45 derajat kekiri dan 45 derajat kekanan dengan total pemutaran 90 derajat. Pemutaran cukup dilakukan 3-4 kali dalam sehari sejak telur dimasukan kedalam mesin setter sampai hari ke-18. Pemutaran bertujuan agar permukaan kuning telur tidak melekat pada membrane kulit telur yang akan menurunkan daya tetas. dengan demikian pembalikan telur bertujuan agar diperoleh daya tetas telur yang tinggi. Semakin sering telur dibalik semakin baik daya tetasnya. Pada mesin tetas modern, pembalikan sudah dilakukan secara otomatis. Tetapi pada mesin tetas sederhana pembalikan dilakukan secara manual dan satu satu.

Tiga hari atau 72 jam setelah telur masuk dalam mesin tetas ( setter ) telur fertile atau tidak fertile sudah dapat dibedakan dengan candling. Telur yang dierami ada yang kosong atau tidak fertile atau mati. untuk membedakan dilakukan dengan menaruh telur diatas lampu untuk melihat keadaan kuning (yolk). Bila berwana gelap dengan beberapa pembuluh darah dari spot kuning telur tersebut. Apabila spot kuning muncul tanpa disertai pembuluh darah dan disertai cincin darah yang mengelilingi maka kemungkinan embrio tersebut sudah mati. Embrio didalam telur  akan berkembang dengan pembentukan pembuluh darah, kemudian pembentukan oragan dalam seperti jantung, hati, ginjal dan dilanjutkan dengan pembentukan paruh, sayap, kaki dan seterusnya. Maka 1-2 hari sebelum menetas, embrio ini sudah memiliki organ tubuh, sistem peredaran darah, saluran pencernaan dan saluran pernafasan yang lengkap. Wujudnya pun sudah mirip ayam ketika menetas.

Setelah telur berumur 18 hari dalam mesin setter kemudian dipindahkan dalam mesin hatcher untuk penetasan. disini temperatur penetasan diturunkan sehingga berada pada kisaran 36-37 derajat celcius, sedangkan kelembabnya dinaikkan sehingga berada pada kisaran 75%. Pada mesin tetas tradisional yang tidak dilengkapi hatcher, biasanya tempat menetas tetap pada tempat yang sama.

Langkah terakhir dalam proses penetasan telur adalah panen DOC hal ini dilakukan pada hari ke-21, telur yang sudah menetas dalam mesin hatcher dikeluarkan dari mesin tetas setelah bulu bulunya mengering. anak ayam yang dipanen kemudian dimasukan dalam kotak kemasan yang mempunyai ventilasi. Saat pulling yang proses pengeluaran  anak ayam yang sudah menetas dari hatcher, langsung dilakukan sortasi yaitu memanen DOC yang sehat dan memisahkan telur yang gagal menetas atau penetasan nya tidak sempurna dapat dibantu prosesnya penyempurnaan penetasan dengan memasukan dalam mesin tetas manual atau tradisional.

DOC yang sudah dipanen kemudian diberi vaksin lalu disimpan dalam ruang penyimpanan dengan suhu sekitar 24 derajat celcius dan kelembaban udara 75% agar tidak terjadi dehidrasi atau penguapan air yang terlalu banyak dari tubuh DOC sehingga tidak terjadi kekeringan tubuh. DOC yang dikemar bisa langsung dikirim pada pemesan atau langsung dipasarkan melalui toko-toko perternakan.